Saturday, 14 February 2015

Sekilas tentang banyuwangi


Setelah membatalkan rencana menuju karimunjawa kemudian bikin rencana ke pulau biawak, eh malah batal lagi, dan akhir nya bikin itinerary menuju ke banyuwangi yang akhir-akhir ini ramai dan lagi ramai – ramai nya akhir-akhir ini.
            Walaupun sudah pernah explore dikit di banyuwangi 2013 silam, rasanya ga bosan-bosan deh menyelami lebih dalam dan berjalan lebih jauh di lagu nya banda neira, ini nih itinerary nya, ke karimunjawa dan pulau biawak pun sudah bikin juga, tapi karena gagal mending gausah di posting aja, gagal dikarenakan pada musim hujan (desember – april) menurut BMKG dan WAKAMSA (dibaca: warga kampung sana) mungkin bisa nyebrang ke pulau nya pada hari itu, tapi takutnya nanti ga bisa balik entah berapa hari, minggu bahkan sampai bulan kita terdampar disana karena gelombang yang tinggi pada musim rambutan eh hujan.
            Semenjak bapak presiden menghapus subsidi kereta api, mulai tanggal 1 januari 2015 tiket kereta ekonomi paling murah 110 ribu rupiah, ga kasihan apa ya pak presiden sama para musafir?, lanjut pada tanggal 20 januari 2015 kita ber 4 berangkat dari Yogyakarta naik mbak sri (tanjung), sembari boring di kereta, saya mencari penginapan di google dan informasi teman saya, setelah bimbang antara turun di stasiun karangasem dan di banyuwangi baru akhirnya mas helmy membalas pesan saya dan setelah tawar menawar saya di persilahkan tidur di penginapan milik teman mas helmy dengan biaya 100ribu / malam, di isi 4 orang, penginapannya berlokasi di depan stasiun karang asem persis, jadi kalian kalo mau balik naik kereta lagi gausah panik harus bangun pagi-pagi.
Oh ya, siapakah mas helmy? Mas helmy adalah musafir yang lumayan berpengalaman (menurut ceritanya dia sendiri sih), dan dia bekerja di salah satu travel agent di banyuwangi, tapi jika anda tidak ingin ikut travel agent bisa seperti cara saya, dengan cara menyewa salah satu penginapan di mas helmy, murah kok, tapi juga harus nawar dong, kemudian anda bisa nanya banyak informasi tentang banyuwangi dan wisata yang wajib di kunjungi di banyuwangi dengan mas helmy, mas helmy juga mempunyai teman yang punya persewaan sepeda motor, rincian dan syarat sewa motor:
·         KTP yang masih berlaku / identitas yang masih berlaku
·         Sewa motor = 75.000 / 24 hours
·         Drop in = 20.000 (missal jika anda sewa 4 hari drop in nya hanya sekali saja, arti dari drop in adalah mengantarkan motor ke tempat anda berada, kalau anda ngambil sendiri di kantor nya drop in ga berlaku)
·         Nambah helm 1 dikenakan biaya 5000 (hanya sekali)
·         Fasilitas = 1 helm dan 1 jas hujan
·         Motornya good condition kok kalo ready, kalo lagi full biasanya di kasih motor yang kurang good condition, tapi hari berikutnya kalo ada motor yang bagus ready bisa di tukarkan
Nah sekarang saya kasih beberapa tempat wisata di banyuwangi yang lumayan bagus dan sedikt deskripsi tentang tempat tersebut:
ü  Kawah ijen: terletak di beberapa kabupaten, setahu saya banyuwangi dan bondowoso, waktu yang pas untuk naik adalah dari kota banyuwangi pukul 11.00 malam, dan tracking pukul 01.00 pagi, kenapa? baca disini
ü  Kawah wurung: terletak tidak jauh dari kawah ijen, jadi kalau kalian turun dari kawah ijen bisa langsung lanjut ke kawah wurung, ga rugi kok ke kawah wurung, mau lihat foto-fotonya? Baca disini
ü  Baluran: waktu yang pas kesana adalah pada musim kemarau, tapi gimana kalo kalian pas musim hujan ke sininya? Ga masalah, tetep bagus kok, tapi harga tiketnya sedikit mahal kalau menurut saya, berapa mas? baca disini
ü  Pantai watu dodol: kalua anda mau ke baluran dari banyuwangi, pasti anda akan ngelewatin pantai watu dodol, kalau anda berangkat pagi dari banyuwangi, anda bisa mampir sejenak di pantai watu dodol untuk sekedar istirahat.
ü  Pantai merah: terletak dekat dengan pantai rajegwesi dan teluk hijau 
ü  Taman nasional merubetiri: taman nasional ini meliputi beberapa tempat wisata yang WAH dan bagus, diantaranya pantai rajegwesi, pantai teluk hijau (green bay), sukamade, pantai permisan dan masih banyak lagi pantai yan masih perawan dan pemerintah maupun warga setempat melarang untuk melakukan kegiatan camp bagi para pengunjung kecuali di pantai yang sudah berpenghuni karena untuk menjaga kelestarian alam dan habitatnya.
ü  Taman nasional alas purwo: terletak di ujung timur pulau jawa, beberapa tempat wisata di alas purwo meliputi pantai G-land (plengkung), tempat pengamatan satwa banteng sadengan, pantai triangulasi dan hutan yang masih adem banget untuk nyahdu di siang hari.

Berikut tadi adalah beberapa informasi jika anda ingin meng explore banyuwangi dan sekitarnya, jangan lupa tetap bahagia, karena bahagia itu membahagiakan.

oh ya, ada yang belum saya tulis sob tulisan yang lain, nunggu dulu ya, hehe

Kawah ijen isinya orang-orang kuat



                Setelah 2 hari kami keliling banyuwangi bagian selatan, dari TN Merubetiri sampai di TN Alas Purwo dan kami kembali ke penginapan di depan stasiun karang asem, rencana saya sih kita sampai di penginapan sore sekitar jam 4an gitu, kalau sampai jam segitu kan kita bisa mandi dan istirahat sebentar kemudian bangun jam 11 malam dan langsung berangkat ke kawah ijen, tapi ya entah betah di jalan apa sukanya kami nyasar gitu gatau tiba-tiba kita sampai di penginapan pukul 19.30 wib.

            Nah, melihat sekarang sudah malam kami berunding sebentar kira-kira mau ke kawah ijen sekarang apa besok pagi nih? Loh kok malam-malam ke kawah ijen mau ngapain? Gini sob, kan 2013 silam saya sudah pernah ke kawah ijen, tapi siang, bagus sih kalau siang, tapi kalau kita berangkat malam nanti kita dapat bonus dapat ngelihat blue fire nya kawah ijen, blue fire apaan sih? Blue fire yaitu api biru yang keluar di mulut kawah di kawah ijen dan selain ngeluarin api biru kawahnya juga ngeluarin anak ayam eh asap belerang dan bau nya jangan nanya sob kaya apa, tapi kata temen saya bau mulut saya hampir sama sih, tapi gausah percaya sob, itu hoax.

Setelah lama buanget kami diem2an di kamar ber-4 akhirnya kita berangkat malam hari ini juga, demi ngelihat si blue fire itu sob, langsung kita packing yang perlu kita bawa termasuk jajanan pasar yang di beli kemarin masih sisa kita bawa juga dan kita berangkat pukul 23.30 wib dari stasiun karang asem, di jalan kita mampir di warung untuk beli bensin eceran dulu, terus baru kita cus.

Eh setelah 15 menitan kami jalan tiba-tiba teman saya telpon suruh balik, ban nya bocor katanya, saya pun putar arah tapi malah putar2 di jalan, setelah itu baru kami kembali, ternyata lumayan jauh juga ketinggal nya, nah di tengah-tengah sawah kan ga ada tukang tambal ban, apalagi buat nambalin luka masa lalu kamu.

Karena tempat kami belum begitu jauh dengan penginapan kami, kami pun telfon sama yang nyewain motor kami, akhirnya kita suruh nunggu di tempat, ga lama kemudian bapak-bapak nyamperin kita dan motor yang ban nya bocor itu di tukar dengan motor yang waras, ternyata itu termasuk fasilitas sewa motornya sob, hehe.

Setelah berterimakasih sama bapak nya kami langsung kembali memacu motor bersamaan dengan dinginnya jalanan menuju kawah ijen, jalan ke kawah ijen jelas kok sob, jadi jangan khawatir, InsyaAllah ga bakal nyasar, apalagi terjerembab ke masa lalu kalian yang buruk.

Kami menikmati dinginnya malam di jalan, eh tiba-tiba saya teringat kalau tripod yang di bawa dan kami bawa tripod itu cuman mau di bawa ke kawah ijen doang malah ketinggal di penginapan, hadeouhh, kemudian saya memelankan kecepatan sembari berunding di jalan, kita balik ngambil tripod, kita kembali ke kawah ijen besok pagi apa gausah mikirin tripod langsung cus ke kawah ijen aja, disini yang paling gelo sih saya, masalahnya teman saya udah nyari2 pinjaman tripod temannya di jogja buat di bawa ke kawah ijen doang eh malah ga ke bawa, akhirnya kita voting sembari kita berjalan dengan kecepatan 40 km/jam, dan akhirnya kita tetap ke kawah ijen tanpa membawa tripod.

Kita sampai di tempat parkir kawah ijen pukul 00.15 wib, kemudian kami menuju ke toilet karena teman saya ada yang mau buang hajat dulu, sembari nyamperin bapak-bapak yang lagi bakar-bakar, trus ada mas-mas juga yang nyamperin, dan katanya minta untuk berbagi kehangatan, kemudian kami mengobrol dan katanya mas nya itu pendakian di buka pukul 01.00 wib, setelah lama kami berbagi kehangatan kemudian ngelihat rombongan orang yang lagi jalan menuju ke gerbang pemeriksaan tiket, kami pun segera bersiap dan ngikutin dari belakang, setelah berjalan sekitar 5 menit ternyata kata orang yang lagi ngumpul itu kalian harus beli tiket dulu di dekat tempat parkir dan kami segera kembali lagi dengan langkah gontai untuk membeli tiket dengan harga 3000/person dan langsung kembali ke tempat pemeriksaan tiket.

Kami start tracking pukul 01.00 wib, setelah berjalan 15 menitan ini ada temen saya perempuan sudah mulai terserang penyakit mengguk atau bahasa kerennya nafas ngos-ngosan, dengan di semangatin temen saya yang satunya dia menguatkan dirinya untuk tetap berjalan dan berhenti sebentar dan berjalan lagi dan seterusnya, saya jalan paling belakang dan ngelihat teman saya ini langkah nya sudah ter seok-seok, mungkin efek belum tidur seharian apa emang sudah lelah dengan masa lalunya saya juga ga tahu, ga lama kemudian setelah saya mbatin atau bahasa kerennya ber prasangka buruk kalau temen saya ini bakal jatuh eh ternyata bener, dia jatuh di lubang kecil tempat aliran air, tapi untung nya ga ada air itu di dalamnya, hehe, kemudian saya menuju ke tempatnya dan membantu dia, sapa tau dia ngasih uang ke saya karena telah saya bantu, kemudian kita berhenti sebentar dan membuka jajanan pasar yang kami beli kemarin dan melanjutan tracking lagi.
Setelah beberapa menit kemudian teman saya sudah mulai ber adaptasi dengan dinginnya malam dan jalur track nya, karena setelah melewati pos timbangan jalannya sudah mulai landai, oh ya setelah pos timbangan ini asap belerang sudah mulai berbau menyengat sob, jadi siapin masker yang memadai, kalo bisa bawa masker double.

Setelah 45 menit kami berjalan dan kita sampai di atas yang bisa ngelihat kawah nya itu, tapi bukan puncak sih, masalahnya ada yang lebih tinggi lagi dan kami cukup sampai sini saja dan segera menuju ke pintu tempat jalan masuk nya ke mulut kawah.

Eh, ternyata harus makai pemandu kalau ingin turun ke mulut kawah nya, karena kita minim budget dan dijalan teman saya pas sudah ngobrol2 dengan guide local yang sedang nganterin tamu nya ke ijen kami pun ngikut sama bapak nya itu, dan di persilahkan masuk sama penjaga pintu nya.

Baru berjalan beberapa langkah eh teman saya yang perempuan ini minta balik lagi, dia mau nungguin di atas, karena dia phobia sama ketinggian katanya, akhirnya dia kembali dan kita meneruskan perjalanan turun ke mulut kawah.

Jalannya sob, lumayan curam dan terjal, saya berjalan dan ngebayangin gimana rasanya jadi porter belerang, dia membawa beban rata-rata 100 kg buat di angkut ke tempat penimbangan dan turun untuk menyambung hidup nya, bahkan keluarganya, jadi bersyukurlah kita sudah di beri kenikmatan yang luar biasa ini sama Tuhan yang maha memberi.

Kita sampai di mulut kawah memerlukan waktu sekitar 30 menit an, dan perjuangan porter tersebut bukan hanya sebatas mengangkut belerang tersebut, dia harus membongkar belereng di mulut kawah terlebih dahulu, sembari di kepulin asap belerang yang sangat menyengat, kalau angin yang membawa asap belerang pas ke arah kita jangan kan mau bernafas, ngelihat aja susah sob, asli asap nya bikin sesak banget.

Setelah beberapa kali mengambil gambar tanpa tripod sembari tiduran di tanah dan di tegur sama salah satu guide local karena menghalangi jalan para tamunya kami langsung kembali ke atas, asap yang mengepul sepertinya juga mengusir kita dari mulut sang kawah dan juga salah satu teman kami masih menunggu di atas juga.

Sampainya kita di atas dan mencari teman kami, kita langsung menuju ketempat yang bisa melihat sunrise, karena masih gelap dan sepertinya sunrise masih lama dan kita sudah sehari penuh belum tidur teman saya ada yang ngajakin turun, padahal saat gelap kita ga bisa melihat danau kawah ijen, kan rugi kalau kita ga foto dengan background nya danau kawah ijen, akhirnya kita mencari lubangan kecil tempat aliran air untuk menghindari angin yang menerjang kami sembari menunggu sang surya keluar.

Setelah lama menunggu, fix sunrise nya ketutup sama awan mendung, setelah itu kita mengambil gambar seadanya dan kembali turun ke pos pendakian kawah ijen, karena kita masih melanjutkan perjalanan ke kawah wurung yang ga kalah bagusnya dengan kawah ijen.


Di jalan kami bertemu dengan bapak-bapak yang menjual belerang yang sudah di ukir sedemikian rupa, jangan lupa membeli sob, harga 3 buah ukiran belerang masih mahal sama harga kuota internet situ kok sob, daripada gesar-geser layar hp dan kepoin akun gebetan melulu mending buat beli ukiran belerang bapaknya, lumayan buat bentu bapaknya menyambung hidup.

Be careful with tn. baluran



Loh kok hati-hati?

“Be careful” dalam tanda kutip di artikan jangan sampai terjadi seperti saya, kenapa? Langsung saja

                Sewaktu saya dan 3 teman saya ngetrip ke banyuwangi, salah satu destinasi saya yaitu ke TN. Baluran. Nah gini ceritanya, harusnya hari ke-3 saya ke baluran nya, tapi gara-gara rencana sama aktualnya pasti bisa beda jadi hari ke-4 menuju balurannya, sebenarnya malah hampir batal menuju ke baluran nya.

Hari ke-4 di banyuwangi, destinasi saya yaitu hanya di pulau menjangan, ternyata trip di pulau menjangan selesai sekitar pukul 14.00 wita, kemudian ada sedikit waktu yang tersisa sebelum gelap akhirnya kami langsung menuju ke TN. Baluran, daripada sampai di penginapan masih sisa banyak waktu kan eman-eman.

Kami berangkat dari dermaga banyuwedang di pulau bali pukul 14.00 wita, yang bikin lama di perjalanan ini yaitu nyebrang dari gilimanuk ke ketapang, pas kita berangkat pukul 06.00 wib dari ketapang ke gilimanuk padahal cuma sekitar 45 menit, tapi pas kami kembali dari gilimanuk ke ketapang saat siang bisa sampai hampir 2 jam, kenapa? Karena kapalnya setelah hampir sampai di pelabuhan, berhenti dulu, mengantri untuk bersandar di pelabuhan, nah mengantri ini yang bikin lama nyebrang nya, sama kaya ngantri wanita pujaan.

Setelah turun dari pelabuhan, dengan motor sewaan di penginapan, kami langsung menuju ke TN. Baluran, perjalanan dari pelabuhan ketapang sampai di pintu masuk TN. Baluran sekitar 45 menit atau berjarak 35 km dari kota banyuwangi, inti nya, kalau kalian mau ke baluran ngikutin jalan raya dari kota banyuwangi ke pelabuhan ketapang, sampai di pelabuhan ketapang kalian tetap ngikutin jalan raya itu trus, kemudian ngelewatin pantai watudodol, masih lumayan jauh, dan TN. Baluran termasuk di wilayah situbondo kalau ga salah, kemarin pas saya kesana di jalan lihat plang situbondo gitu, dan jangan lupa nanya sama orang, pintu masuk baluran ada di pinggir jalan raya itu, kalau kita dari banyuwangi ada di sebelah kanan jalan, trus, di samping nya ada tulisan desa wisata apa gitu, maaf lupa namanya, hehe..

Kami sampai di pos simaksi baluran pukul 16.30 wib, nah, point pertama dari “be careful” ini ada pada pos simaksi TN. Baluran, saya menunggu di motor, dan teman saya melakukan simaksi, dan tarif nya per motor adalah 35.000 rupiah, menurut sebagian orang sih murah, tapi kalau menurut saya, sepertinya saya ketipu sama petugasnya, (sory frontal), karena saya nanya sama teman saya yang belum lama dari sana hanya di kenakan tarif 8000/motor, apa mungkin karena sudah malam trus di kira kami nginep ya, tapi kami juga ga di tanyain mau nginep apa ga, ah sudahlah, mau protes tapi sudah sore, akhirnya kami bayar dan langsung cuss.

Perjalanan dari pos simaksi sampai di savanna bekol sekitar 45 menit kalau naik motor, jalannya rusak parah, tapi rata-rata semua taman nasional yang saya kunjungi di banyuwangi jalannya rusak parah semua, kalau di baluran jalannya di bikin rusak sih wajar, karena pas perjalanan kemarin di jalan banyak lihat merak, ayam hutan, luwak, buaya, gendruwo, MC mikey (ninja turtle), optimus prime dll pada berkeliaran di jalanan, kalau jalannya mulus pasti pengunjung pada ngebut, dan disana tidak ada polisi yang ngatur lalu lintas, kemungkinan terjadi kecelakaan antara pengendara yang ngebut dan hekamsi (hewan kampung sini), makanya di bikin rusak, kan jadi pelan-pelan pengendaranya.

Kemudian ada banyak plang di jalan, yang ber tuliskan dilarang berburu, rawan kebakaran hutan, dilarang cinlok dan nyomblangin teman dll, tapi yang paling serem sih menurut saya ada tulisan “sumur tua” saya melihat arahnya menuju ke semak belukar yang gelap, tiba-tiba pemeran film “into the wild” keluar dan bilang kalau masyarakat itu gila.

Setelah sampai di savanna bekol kami langsung parkir motor di dekat papan kayu yang ada gantungan tengkorak banteng, nah point ke-2 dari “be careful” berada disini, kalau kalian parkir kendaraan disini, khususnya motor, jangan lupa seluruh barang bawaan kalian di bawa, jangan sampai ada yang di tinggal dimotor, apalagi di tinggal teman lulus kuliah duluan, ihh sebel, karena monyet-monyet disini punya bakat nyolong aka maling aka gunting, barang kami yang berhasil di curi sama monyet yaitu minuman, nah monyet pun bisa bukain botol minuman apalagi bukain rok nya biduan dangdut, pinter kan?, kalian juga pinter kok..

Di savanna bekol di dominasi savanna luas, rusa, banteng, monyet, ular, kerbau, biawak, anjing hutan dll, tapi saya kemarin hanya melihat rusa dan monyet, kemudian kami melanjutkan menuju ke pantai bama, di tengah-tengah perjalanan kami berhenti, pengalaman saya pas tahun 2013 kemarin ke pantai bama dan pemandangannya biasa saja, dan hari sudah hampir gelap kami memutuskan kembali ke savanna bekol dan tracking menuju ke gardu pandang, nah kalau saya ga ke gardu pandang sini pasti ga bisa lihat rusa.

Sampai di puncak gardu pandang rasanya betah ber lama-lama disini, sembari melihat pemandangan dan mengobrol tentang angan-angan masa depan yang cerah, hehe. Disini kalian bisa melihat savanna yang luas, gunung baluran yang indah, laut yang biru dan hutan yang sejuk, para petugas taman nasional ada yang tidur di kantor yang berada di bekol, jangan Tanya soal sinyal dan listrik, air bersih melimpah sob, generator listrik dinyalakan pada pukul 18.00 wib, kemudian kami turun dan melanjutkan perjalanan kembali pulang ke penginapan kami di stasiun karang asem banyuwangi.

         Point ke-3 dari “be careful” berada pada saat kembali perjalanan pulang dari bekol ke pos simaksi pada saat langit gelap, anda harus extra hati-hati, karena sudah tidak ada pengunjung yang berkunjung pada waktu gelap, jadi kalian sendiri yang ada di perjalanan, pas kami di jalan beruntung sih ga ada ban bocor di lokasi taman nasional, kan bingung dong kalau ban bocor di tengah hutan sendirian, dan ga mungkin ada orang lewat, kemudian hewan malam seperti yang mengganggu mata, kalau kaca helm nya di tutup ga bisa lihat jalan, tapi kalau di buka bisa kemasukan hewan matanya, dan juga jangan lupa selalu berdoa menurut keyakinan masing-masing, karena pas kami perjalanan ke pos simaksi menurut pengakuan teman saya ada yang nyium bau wangi di perjalanan, kemudian bau nasi basi juga, hehe, dan juga menurut saya perjalanan ke pos simaksi terasa amat jauh kalau di banding dengan pas kami berangkat, mungkin itu efek dari capek sih.

         Setelah sampai di pos simaksi kami hanya lewat dan langsung melanjutkan perjalanan ke banyuwangi, kemudian mampir di tempat makan di kota banyuwangi, tempat makan nya seperti angkringan yang di jogja, tapi lebih besar dan lebih lengkap menu makanannya, santai sob, makanan di kota banyuwangi murah-murah kok apalagi café-café warung kopi di sini, di jamin murah deh, kecuali warung di stasiun karang asem, mending hindari beli makan di dekat stasiun dan pelabuhan deh.

Ini sob rangkumannya, cuman saran sih, semoga bermanfaat:

Point 1  : jadi biaya masuk sebenarnya untuk wisatawan local 2500/orang, wisatawan asing 20.000/orang dan biaya motor 6000 rupiah.

Point 2  : simpan barang bawaan anda, apalagi kamera, mending selalu di cangklongin ke leher.

Point 3  : kalau bisa anda kembali ke pos simaksi sebelum gelap.

Oh ya, di saranin kalian makai kendaraan pribadi, kalau kalian dari luar banyuwangi, bisa sewa motor maupun mobil, kalau makai angkutan umum cuman ada dari banyuwangi ke pos simaksi saja, dari pos simaksi ke savanna bekol ga ada angkutan umum sob, apalagi ke pantai bama.

Keep journey sob, mumpung masih hidup, hehe

Friday, 26 December 2014

PULAU LOMBOK GAK CUMAN PUNYA GILI TRAWANGAN


#Lombok4


            Sebelum sampai di kota mataram, teman saya menghubungi bang arif yang kemarin barengan pas naik ke gunung rinjani, setelah kami turun dari angkutan yang mengantarkan kami dari bangsal ke kota mataram kami langsung bertemu dengan bang arif dan langsung di giring menuju rumahnya.
            Disana kami di suguhin makanan dan minuman gratis sama bang arif, bang arif sudah mempunyai anak dan istri, di rumahnya bang arif membuka usaha café tempat minum kopi kecil-kecilan, setelah lama mengobrol dan waktu sudah menunjukan hampir tengah malam nah disini kami akan berpisah lagi dengan beberapa teman kami, karena beberapa teman kami sudah membeli tiket kereta di banyuwangi sana untuk lusa maka mereka pulang sekarang dari mataram, biar nanti ga telat keretanya, teman-teman saya di beri tumpangan sama temennya bang arif menuju ke pelabuhan lembar
            Kemudian saya dan yuniar di beri tumpangan sama temannya bang arif yang satu nya menuju ke rumah singgah di komunitas backpacker Lombok, karena menggunakan motor jadi ga bisa bareng-bareng, dan giliran saya pertama yang di antar ke rumah singgah.
            Setelah sampai di rumah singgah dan saya baru pertama kali di rumah singgah saya pelan-pelan masuk dan disana, waw, banyak orang-orang lagi kumpul, nah di sela-sela mereka kumpul dan bercanda, saya masuk dan langsung menatap saya semua, kemudian saya langsung lari keluar lagi, eh tapi di suruh masuk sama salah satu orang yang ada disana, kemudian saya bersalaman satu persatu dengan penghuni rumah singgah, nah saya kenalin dulu ni, di rumah singgah itu ada bapak sama mamak, beliau adalah yang mempunyai rumah singgah, nah beliau juga baik hati.
            Karena saat saya sampai disana dan bapak belum tidur saya juga bersalaman dengan bapak, kemudian saya meletakan tas saya dan langsung ikut duduk dan berbagi cerita dengan orang-orang disana, tak lama kemudian yuniar datang dan melakukan hal yang sama dengan saya.
            Nah, karena salah satu orang yang mampir di rumah singgah ada yang ber ulang tahun, saya dan yuniar ikut untuk memberika surprise, dank arena ada yang berulang tahun di rumah singgah jadi banyak makanan, eh walaupun ga ada yang berulang tahun di rumah singgah tetep banyak makanan, karena komunitas backpacker yang di Lombok sering ngirimin makanan dari rumahnya, sumpah gaes, orang nya baiiiiikk semua di rumah singgah, jadi kalo kalian lagi main ke pulau Lombok jangan sungkan-sungkan mampir ke rumah singgah ya gaess. Setelah kami semua ngobrol hingga hampir larut pagi, kami langsung tidur, karena besok pagi masih banyak aktivitas yang di jalankan.
            Saya bangun pukul 08.00 wita dan langsung mengantri kamar mandi, karena perut sudah mules, kemudian langsung mandi, setelah itu kumpul lagi sama teman-teman baru disana, nah hari itu beberapa orang ada yang menuju ke air terjun di daerah Lombok timur dan utara dan ada yang pulang juga, karena saya ingin melihat pantai di Lombok selatan dan ga ada yang ikut maka hanya saya dan yuniar yang ke Lombok selatan.
            Setelah kami di pinjamkan motor sama teman nya mamak, dengan tariff 60ribu/hari dan motornya di antarkan ke rumah singgah, kami langsung mempersiapkan diri dan nanya-nanya sama bapak dan mamak tentang jalan dan daerah di Lombok selatan, karena hari semakin siang, dengan sedikit informasi dan saya lebih percaya sama gps di smarphone saya maka kami langsung berangkat, nah buat kalian yang pergi tanpa barengan sama orang yang sudah tahu Lombok saran saya tandai dulu posisi rumah singgah sebelum kalian pergi, jangan sampai bisa berangkat, tapi ga bisa pulang.
            Karena saya dan yuniar berniat hanya mengunjungi pantai dan mengambil gambar maka kami hanya membawa kamera dan dompet. Kami berjalan dengan santai sembari mencari warung untuk sarapan, setelah kami dapat tempat makan yang murah dan enak kami melanjutkan perjalanan ke arah selatan, dan tujuan pantai pertama kami adalah pantai selong belanak.
            Kami melewati sawah yang luas kemudian embung yang besar, tapi air nya sedikit, karena waktu itu musim kemarau dan tanah sangat kering, ga sadar kami sudah berjalan hampir 2 jam dan belum nemu tanda-tanda pantai, setelah kami bertemu dengan jalan aspal yang bagus dan saya piker jalan yang bagus itu tanda-tanda dekat dengan tempat wisata, dan tak lama kami berjalan di atas aspal yang bagus tiba-tiba jalan keputus dan aspal hilang, dan jalan berubah menjadi tumpukan batu dan tanah, setelah diskusi sebentar kami memutuskan untuk balik arah dan mencari jalan yang lain.
            Akhirnya kami menemukan jalan yang sebenarnya, sekitar 1 jam lebih kami berjalan sampailah kami di pantai selong belanak, disana banyak turis-turis dari luar yang bermain selancar, beberapa saat setelah kami duduk di pinggiran pantai dan melihat keindahan pantai, sampailah kami di pantai selong belanak.
            Saat sampai disana, kami langsung nyari tempat yang eyup (adem/teduh), kalo turis-turis pada nyari tempat berjemur, nah giliran orang Indonesia malah langsung nyari yang adem, apalagi yuniar, dia sensitive banget sama panas matahari, takut kulitnya jadi ungu.
            Nah, pas lagi ngelihat pemandangan dari tempat kami duduk, tiba-tiba yuniar ngajak nyebur, kan eman-eman udah jauh-jauh ke Lombok malah gak nyebur ke lautnya, malah cuman lihat-lihat tok, akhirnya kami langsung nyebur dengan celana satu-satu nya yang di bawa, sembari ndeketin bule female yang lagi di ajarin surfing sama pacarnya.
            Setelah 1 jam kami nyebur, kami langsung naik ke permukaan dan nyari tempat teduh lagi, dan ternyata disamping tempat kami duduk terdapat 2 bule cewek yang lagi klekaran di pasir dan Alhamdulillah pacarnya lagi pada main di laut, dengan modal berdoa dan semangat dari saya, yuniar ngajakin bule itu foto bareng, walaupun campur bahasa wild.
            Kemudian lanjut di pantai berikutnya, pantai mawun dll sampai ke pantai tanjung aan, sory lupa nama-nama pantainya, yang ingat namanya cuman pantai itu saja, pokonya bisa cuci mata sepuasnya kalo kalian disana, bukan karena keindahan alam nya saja, tapi penduduk lokal disana juga banyak yang baik hati, dan pas terakhir sampai di pantai tanjung aan pemandangan nya top banget, ngelihat matahari hampir jatuh ke bumi, tapi belum sampai jatuh kami udah pergi sih, takut kalo malem malah lebih parah lagi nanti kami nyasarnya.
            Pokoknya hari itu kami puas ngelihat pemandangan yang super incredible kalo kata orang instagram, check my IG, dan ada tambahan kata-kata itu juga, nah pulangnya kami mampir di parkiran rumah adat suku sasak, karena badan sudah klenyit dan bau bangkai, dan juga kena penyakit “little bondy” yaitu silet gatel kelebon wedi, bahasa indonesianya nanya aja ya sama orang yang ngerti bahasa jawa, nah penyebabnya ya gara-gara main di pasir pantai dan parahnya kami belum bilasan sama sekali, dan baru mandi setelah kami sampai di rumah singgah, nah saran saya, walaupun kalian gak niat buat nyebur atau apapun mending bawa barang berlebih deh kalo berpergian, biar ga nyesel tar, penyesalan kan datang terakhir, kalo datang awal namanya pendaftaran, oposeh…

ada yang ulang tahun ni di rumah singgah

selangkah lebih maju

aku dan teman-teman aku

gingseng dan kluwek

lupa nama pantai nya ni

tanjung aan dong

selfbrush

jurus ikan asin lg di jemur

para pejalan yang mampir di rumah singgah ni

bareng sama orang jogja juga

KALO SAMPAI DI LOMBOK BISA JADI BERUBAH PIKIRAN


#Lombok3


          Pukul 09.30 wita saya bangun, bukan kami ya, tapi saya duluan yang bangun, trus tidur lagi, pukul 09.51 wita pintu kamar kami di ketuk sama orang, kemudian bangun dengan panik dan membuka pintu kamar, yang mengetuk pintu kami adalah perempuan, dia salah satu pegawai dari penginapan yang kami inapi, mbak nya bilang kalo ceck out nya pukul 11.00 wita, kemudian kami segera ngusapin muka dengan air yang sedikit asin rasanya, sama keluar nya dikit-dikit, setelah itu kami ber empat langsung menuju ke tempat penginapan temen saya, sebelumnya kami makan dulu di warung makan yang dekat dengan tempat penginapan, pas sampai di penginapan temen saya, kami langsung sekalian bayar paket trip keliling gili nya, harga normal nya 100ribu/trip, tapi kita milih 120ribu/trip, kalo yang lebih mahal itu nanti dapat makan siang kemudian kami nitipin ransel kita ke resepsionis penginapannya, next kami langsung mengantri bareng bule-bule yang bikini an untuk milih goggle, fin dan pelampung, kemudian kami di beri instruksi pakai bahasa inggris, dan langsung di suruh milih kapal.

yang megang kamera siapa hayo? intermezo dikit

kaya cumi bakar, ya gak sih?

nah ini, sip2 teruskan

gayanya....


            kami memilih kapal yang isinya bule semua, karena kapal satunya ada turis local, lanjut pas kapal sudah jalan, dan kami memilih duduk di paling depan tanpa atap, sembari dengerin instruksi dari crew perahunya yang ga begitu ngerti karena menggunakan bahasa inggris kami mengambil gambar dan foto diri sendiri, setelah sampai di spot snorkeling yang pertama kami langsung nyiapin gopro, goggle dan fin, tanpa pelampung dan langsung nyebur ke laut, baru 5 detik di laut kami semua langsung nempel di sisi-sisi perahu karena ya emang stamina kami kurang kuat ya mungkin, hehe, setelah nyelupin kepala ke dalam laut dan melihat seluruh keindahan alam di bawah laut termasuk bule yang lagi berenang ya, tapi tetep di dekat perahu, karena buat jaga-jaga kalau tar tiba-tiba lemes, setelah sekitar 20 menitan kami nyelupin kepala ke dalam laut kemudian kami di teriakin sama crew perahunya untuk segera naik, dan ngelanjutin ke spot berikutnya, dan setelah beberapa spot snorkeling kami berhenti di gili meno untuk makan siang, dan lanjut lagi menuju spot selanjutnya, setelah makan siang dan kenyang dan kembali menikmati hari di atas perahu sambil di cipratin air laut sama sisi perahunya karena melaju cepat dan ombaknya yang lumayan besar bikin males buat nyebur ke spot snorkeling yang terakhir ini, padahal kata crew nya kalo beruntung di spot ini bisa ngelihat penyu yang sudah beranjak dewasa berenang di sekitaran spot ini, jadi fix kami semua tetep nyebur lagi, dan tetep ga ngelihat penyu nya, dan kami kembali ke gili trawangan untuk mengambil ransel kami dan kembali ke pulau Lombok, tapi sebelum nya kami ikut mandi di tempat penginapan nya dulu, kemudian kami menuju ke dermaga untuk membeli tiket penyeberangan, dan ternyata loket nya sudah tutup, setelah kami duduk-duduk sembari meratapi isi dompet yang semakin menipis karena kalau ga ada kapal nyebrang berarti kami harus nginep semalem lagi di gili trawangan akhirnya ada bapak-bapak yang neriakin kalo masih ada 1 kapal lagi yang nyebrangin ke dermaga bangsal di pulau Lombok, bayar nya ga lewat loket, tapi langsung sama salah satu crew kapal nya, kemudian kami segera masuk ke perahu dan menuju ke pulau Lombok, nah ini nih yang paling syahdu, sore-sore menjelang malam duduk di ujung perahu, dengerin lagu nya senandung sore sembari melihat matahari tenggelam, tapi pas ini mendung sih, sama kaya hati penulis nya, mendung horror, tapi tetep di jamin syahdu kok.








            Dan kami sampai di dermaga bangsal kemudian langsung naik cidomo yang kosong di sekitar dermaga buat nganterin menuju jalan raya tempat berhentinya angkutan umum yang nganterin menuju kota mataram, setelah turun dari cidomo kami langsung menuju warung makan untuk makan malam, nah habis makan ni kami langsung rapat dikit sesuai tujuan kita masing-masing, nah disini ada 3 kelompok, yang pertama kelompok saya, yang kedua kelompok temen saya, yang satu nya kelompok temennya temen saya yang dari bandung, nah tujuan nya di bagi menjadi 2, yang pertama menuju mataram dulu, dan yang kedua menuju ke pelabuhan lembar langsung, jadi langsung kami membagi 2 kelompok buat nyari angkutannya, setelah nemu dan tawar menawar akhirnya kami bersalaman dan berpisah, sebenarnya rencana trip saya kali ini langsung pulang ke jogja, tapi karena factor racun dari teman saya yuniar, dia masih mau di Lombok dulu dan njelajahin pulau Lombok akhirnya saya nyempatin sehari dulu di pulau Lombok dengan sisa-sisa uang yang di bawa pas untuk itinerary yang saya buat dulu, dan fix saya mau lihat-lihat pulau Lombok dulu.




Lanjut #lombok4

video dokumenter ni, bukak ya :D

Monday, 10 November 2014

GILI TRAWANGAN BIASA AJA


#Lombok2


     Setelah semua berkumpul, saya minjam computer untuk mindahin memori kamera ke flasdisk, kemudian saya mandi dan langsung pamitan sama mamak nya temen saya, kemudian saya berempat di anterin ke tempat pemberhentian angkutan yang mau ke arah bangsal, bangsal adalah dermaga buat nyebrang kalau mau ke pulau gili trawangan, gili air dan gili meno, kemudian saya membeli bekal untuk sehari di gili trawangan, karena di pulau gili segalanya serba mahal, kemudian pamitan dengan teman saya dan bapaknya. Ohya sekarang kami menjadi ber-empat, saya, yoga (mama), yuda dan endra.
           
Pas sampai di bangsal kita langsung nyari makan dulu, sekalian bungkus makan buat makan malam di gili, pas temen saya pesen dia bilang

Yoga: ”mbak, saya pakek itu sama itu (nunjuk ke arah sayur sama nasi)”

Penjual makan: “udah?”

Yoga: “iya”

Penjual makan: “hhhaaahh???”

     Lucu ga ceritanya?, hehehe. Padahal niatnya biar ngirit tu temen saya, tapi ya ga gitu juga kali ya, masa cuma pesen nasi sama sayur gori tok, ga pakai lauk, lanjut, jadi setelah makan kita langsung menuju ke perempatan bangsal buat nyari cidomo (sejenis andong, Cuma kalo disini namanya cidomo) untuk nganterin ke pelabuhannya, dengan membayar 5000 rupiah kita dianterin sampai ke depan loket pembelian tiket penyeberangan dari bangsal menuju gili trawangan, kemudian setelah membeli tiket dengan harga 12.500 kami menuju ke perahu yang ditunjuk oleh petugas dermaga melalui mikrofon diatas bangunannya, kita langsung lari menuju kapalnya biar dapet tempat paling depan, biar dapet pemandangan matahari tenggelam eh malah kita salah kapal, kemudian lari kembali menuju kapal yang sebenarnya dan ah, udah dipakai sama rombongan orang lain yang duduk di kapal paling depan, akhirnya kami duduk di dalam kapal, disana kita bareng sama pelancong-pelancong dari seluruh penjuru negri, ada juga para pendaki yang setelah lelah mendaki gunung rinjani kemudian menuju ke gili trawangan, ada bule juga tapi kayaknya bule nya gay deh, soalnya berdua doang, trus cowok semua dan duduknya yang satu bersandar sama temen bule yang di samping nya, sambil goyang-goyangin pantatnya eh. Terus ada warga local juga, yang bawa barang makanan, minuman keras juga untuk di jual di gili trawangan.


kami naikin cidomo :D

berpose di depan lautan masa lalu

            
     Setelah sampai di pulau gili trawangan kita langsung diserbu banyak warga, ga banyak sih, cuma 2 orang, dia nawarin penginapannya, harganya sih relative MAHAL, kita langsung menolaknya, kemudian jalan kembali, eh pas jalan saya ketemu sama si hitam YUNIAR, dia teman saya pas SMA dulu, tapi sering melancong bareng dia, dulu pas jalan-jalan ke barat nih ceritanya emyuniyar, doi habis naik ke gunung rinjani, kemudian menuju ke gili trawangan, setelah itu kita gabung sama rombongan nya yuniar, dan di rombongannya yuniar juga ada teman saya SMA lagi, emang Indonesia itu kecil ya, mau kesana ketemu dia, mau kesini ketemu itu, mau ke situ ketemu kamu eh, kemudian kami mengobrol banyak dan sampai lupa kalau kita belum dapet penginapan, akhirnya kita membagi rombongan, ada yang ke utara ada yang ke selatan, ransel kami titipin ke temannya yuniar, setelah 10 menit berjalan saya di tawarin sama mas-mas sana, dan setelah menawar sebentar dan langit sudah mulai gelap kita fix di penginapan mas nya ini, ga tau namanya apa, tempat nya lumayan masuk, harganya 250/malam untuk 4 orang, fasilitasnya ada AC nya, satu komplek Cuma 2 kamar, yang satunya sudah di huni sama bule, kalo ini cowok sama cewek, sengaja kita ga ngobrol, Cuma negur doang, karena kita sadar diri daripada nyusahin bulenya sambil ngobrol pakai bahasa hewan, hehe, kami berbeda penginapan sama yuniar, dia sudah dapet penginapannya sebelum kami datang, akhirnya nanti malam kita janjian buat ketemu sama jalan-jalan di gili trawangan, sambil ngecengin bule-bule cewek.
            
     Setelah kita masuk di penginapan, kami langsung makan lagi, dan bergantian mandi, setelah selesai semua dan dandan layaknya anak muda kota kita langsung menuju ke penginapannya yuniar, setelah nemu penginapannya kita langsung masuk dan ternyata semua pasukannya seperti ikan asin dijemur, bletongan doang (ga pakai baju), sambil tidur di segala tempat, ada yang di dalem lemari, diatas genteng, di meja resepsionis nya dan dimana-mana. setelah lama menunggu akhirnya kami keluar untuk ngikut makan malam disana, untung kita sudah makan, karena disini makanannya mahal semua, sampai di warung yang paling kecil aja tetep mahal, kita Cuma pesen teh anget, dan harganya 4000/gelas, beli teh anget aja gelas nya pakai gelas beer, biar ngirit sampai dibilang “mas nya diet ya?” sama penjual makanannya, setelah makan kita langsung jalan lagi dan memutuskan menuju ke salah satu café di gili yang ngadain party, karena pas sore kita datang, kita ngelihat spanduk yang bilang kalo tar malam ada party di salah satu café di sini, kemudia kami menuju ke café nya dan berhenti di depan café nya, setelah 15 menitan akhirnya kita sadar ngapain ya kita di luar sambil nglihatin orang-orang, setelah itu kita semua ga ada yang tahu gimana cara pesennya, setelah memberanikan diri kita masuk dan menuju ke meja besar yang ada bartender nya, kemudian kami memesan tape panas eh Fanta anget maksut nya sebotol beer yang setara sama bule-bule disana, harga beer disana naik 50% dari harga beer yang di jual di kota-kota biasa, kemudian kami dengan gerakan seperti maling, kami mengendap-endap sambil goyangin pinggul dan masuk ke tempat bule-bule yang lagi pada party, pokoknya goyangan kami ndeso banget, masak Cuma goyangin pinggul doang, sambil tangan satu nya masuk ke saku, huftt, setelah lama disana ngelihat jam sudah nunjukin ke arah pukul 01.00 wita, padahal besok jam 10.00 wita kita mau ikut paket keliling gili, kita langsung balik menuju ke penginapan masing-masing.


lagi PDKT sama bule ni


Wednesday, 29 October 2014

OTEWE KE LOMBOK GAES



#1
       Setelah turun dari gunung Argopuro dari tanggal 12-16 agustus 2014 fix saya akan melakukan jomblo traveller ke pulau Lombok, sebenernya ga sendirian sih, karena temen saya saat itu habis turun dari gunung rinjani, nah saya mempunyai 3 pilihan daerah yang ingin saya kunjungi yaitu antara pantai pasir putih di situbondo, bali atau Lombok dengan sisa dana yang saya kantongi hanya sedikit, sebenernya mau ke pantai pasir putih dulu bareng sama team saya saat naik gunung argopuro, kan enak bikin tenda di pantai sambil api unggunan irit juga gausah nginep di penginapan, eh dianya ga mau, gara-gara mau ikut dangdutan di rumahnya, yaudah, akhirnya setelah saya menghubungi teman saya yang dari rinjani, habis dari Lombok mereka mau mampir ke bali, fix saya akan ke bali, dan mulai berangkat besok pagi, nginep dulu semalam di beskem pendakian argopuro via bremi, nah sembari mandi, nyuci baju dan nungguin bis yang datang buat nganterin temen-temen saya turun ke probolinggo, eh jadi bimbang ni, antaran ke Lombok sekalian apa tetep ke bali tok, pas bis nya datang, planning berubah semua dan fix saya akan ke pulau Lombok.

            Di dalam bis ndredeg juga ni, karena baru pertama kali saya melakukan perjalanan sendirian ke pulau orang, nah pas saat nya saya turun kita berpamitan semua, karena saya turun duluan di pinggir jalan raya situbondo, dan yang lain lanjut ke terminal probolinggo, saya turun bareng sama mas lutfi yang pas naik ke argopuro kita barengan terus, doi mau balik ke beskem pendakian argopuro via baderan, karena motornya ada disana, akhirnya saya berpisah dengan mas lutfi dan jalan kaki ke arah situbondo, dan saya mengeluarkan kertas dan spidol kemudian saya tuliskan di kertas tersebut “BANYUWANGI” dengan tulisan yang amburadul, kemudian saya berdiri tepat di pinggir jalan memperlihatkan kertas tersebut ke arah kendaraan yang lewat sembari mengacungkan jempol dan soundtracknya lahu hidayah, eh baru 2 menit mas lutfi langsung nyamperin.
Mas lutfi: “mas, sampean gak ono ongkos ta?”
Saya: “ono mas, santé ae”
Mas lutfi: “nek gak ono tak ongkosi ki, tenan tah mas?”
            Setelah melakukan percakapan yang lama akhirnya mas lutfi naik bus duluan dan pamitan. Nah gaya saya sudah seperti backpacker pengalaman, eh sudah 45 menit ga ada yang berhenti buat ngangkut saya, buahahaha opotoh, jane isin aku le crito,  nah dari pengalaman tersebut saya simpulkan bahwa kalau mau nebeng dan posisi kita di jalan raya besar mending nyari lampu merah kalau ga tempat yang macet, biar supir nya mudah ngasih tumpangan, walaupun kita berdiri di pinggir jalan yang ada tempat parkir besar tetep aja ga ada yang mau berhenti. Nah dan ujung-ujung nya saya naik bis juga, hehehe, kan mumpung sendirian jadi bebas dong melakukan apapun, walaupun gagal pasti tetep dapat pengalaman.

            Nah, ongkos bis dari paiton sampai ke banyuwangi saya kena 30ribu, dan saya ga tau itu mahal apa ga ya, karena saya juga belum sempat nyari info tentang angkutan dengan jurusan tersebut, saya hanya berbekal pengalaman tahun kemarin pas ke Lombok via kereta sampai banyuwangi. Lanjut, setelah lama tidur di dalam bis akhirnya sampai di terminal ketapang, dan saya kira bis nya nganterin sampai pelabuhannya, ternyata hanya sampai di terminal nya saja, kemudian saya lihat di google map ternyata pelabuhan masih lumayan jauh jika jalan kaki, saya mengikuti rombongan yang baru turun dari bis yang saya tumpangi menuju ke angkot kecil yang nganterin ke pelabuhan, dengan ongkos 7000/orang, karena kapal nya 24 jam ber operasi dan juga bus buana raya yang nganterin dari gilimanuk sampai ke padang bay mulai beroperasi sekitar pukul 01.00 wita saya mencari kuliner dulu dan membeli makanan di minimarket. setelah selesai saya langsung menuju ke loket pembelian tiket penyeberangan ketapang-gilimanuk, dan saat itu lumayan banyak pengunjung yang membawa backpack menuju ke pulau dewata, kemudian saya langsung menuju ke kapal, eh pas mau masuk di jembatannya pintu kapal sudah bergerak keatas, untung di samping saya ada pegawai yang ngatur kendaraan yang mau masuk kapal dan membawa HT, kemudian saya ngomong kalau mau ikut naik kapal tersebut, dan pintu nya turun kembali, tapi saya harus rela lari sembari membawa tas carir yang masih berat dan kaki yang belum sembuh karena habis turun dari gunung argopuro dan soundtrack nya sigur ros yang hopipolla, setelah saya berhasil masuk ke kapalnya saya langsung menuju dek paling atas, eh baru 5 menit diatas langsung nyari tempat duduk di dalam, karena angin yang lumayan banyak di dek atas.

            Saya sampai di pulau dewata sendirian, malam-malam, muka lethek, ireng, bibir pecah-pecah dan gatau mau kemana pas itu, karena lupa jalan keluarnya kemana, eh pas mau nanya sama pak polisi, polisinya sempat curiga dengan saya, kemudian di cek KTP saya dan nanyain apa saja yang di dalam tas saya, karena saya masih ngantuk dan badan masih belum pulih di tanyain begituan saya sedikit tersinggung ya, hehe, kemudian saya suruh mengecek sendiri isi tas saya, akhirnya ada polisi lain yang bantuin saya, dan saya disuruh segera pergi, lanjut saya berjalan menuju ke terminal, pas di pintu keluar banyak calo yang nyamperi saya, dan saya bilang mau ke padang bay, akhirnya saya ngikutin tuh calonya ke terminal, eh malah ngilang orang nya, kemudian pas saya duduk di kursi terminal ada calo yang lain yang nanyain saya lagi, kemudian saya diberi harga 80.000 sampai di padang bay, setelah lama melakukan negoisasi akhirnya saya dibolehkan naik bis dengan harga 40.000, yang naik bis ini kebanyakan para pendaki yang mau naik gunung rinjani dan pelancong dengan etnis cina, maaf sebut merek, bukannya rasis tapi cuman mau jelasin saja, kemudian bis berjalan dan saya mencoba untuk tidur, setelah melewati terminal ubung di Denpasar saya sudah mulai curiga kalau bis ini sudah ga layak jalan, masalahnya pas mulai jalan tiba-tiba ada suara DHEG tepat di bawah kursi saya, seperti ban nya mau copot, dan ternyata ban nya mbledos, kemudian sopir dan kenek nya berkolaborasi buat mbenerin ban nya, setelah bis berjalan kembali saya langsung meringkuk, menutup mata dan gelap.

            “padang bay, padang bay, padang bay” sambil teriak-teriak, kemudian saya bangun dan sampai di padang bay, saya langsung turun, dan langit masih gelap, kemudian saya menuju ke warung makan samping masjid di dekat pelabuhan, karena tahun lalu pas saya ke Lombok juga mampir ke warung ini, bapaknya masih masak
Saya: “sudah buka belum bu?” sambil menadahkan tangan keatas dan ngeluarin liur ke baju, ya gal ah.
Ibu warung: “sudah, tapi belum ada sayurnya”

            Kemudian saya pesen nasi lauknya campur, eh pas di anterin nasinya lauknya ada 2, ayam sama ati ampela, saya langsung mbatin “wah berapa ni harganya, ckckckck”, setelah selesai makan kemudian saya bayar dan ternyata cuma habis 12.000, Alhamdulillah, ga mahal, karena saya biasanya kalau makan cuma nasi, kerupuk sama kecap sih, di kasih begituan ya kaget dong, lanjut setelah selesai makan saya langsung menuju ke loket pembelian tiket penyeberangan padang bay – lembar, setelah itu saya langsung nyari tempat duduk yang pinggur jendela dan berdoa semoga yang duduk di samping saya perempuan cantik dan membahana, kemudian tiba-tiba gelap dan ternyata saya ketiduran, ketiduran di pangkuan mantan, eh pas bangun di samping saya ada 3 ibu-ibu, berarti saya cuman kurang beruntung saja. Ohya saya masih satu kapal bareng pendaki dan pelancong cina, setelah 4 jam perjalanan akhirnya sampai di pelabuhan lembar, kemudian saya turun, berhenti sejenak dan mulai menghirup udara di pulau LOMBOK, menyapa kerikil, air, laut, pagar, sampah, pohon, daun jatuh, calo yang narik-narik tas saya dll. Setelah puas, saya berjalan menuju pintu gerbang pelabuhan lembar, disana banyak angkutan mobil nya carry yang relative murah di banding yang di dalam pelabuhan, tergantung negosiasi, dan saya minta untuk nunggu penumpang yang lain, dan akhirnya dapat barengan dengan pelancong cina itu, saya di beri tarif 30.000 sampai di rambige, dan pelancong cina itu 35.000 cuman sampai di mataram, pas sampai di mataram saya saya di oper sama supirnya suruh naik ojek, tapi sudah di bayarin sama supirnya, tujuan pertama saya saat sampai di pulau Lombok adalah rumah teman saya yang ada di daerah rambige, untung nya saya masih ingat jalan menuju rumahnya,  dengan menavigasikan bapak ojek nya, dan saya sampai di rumah teman saya dengan selamat dan tersenyum, eh pas ngetuk pintu ternyata teman saya belum pulang, masih nganterin temen saya yang habis naik rinjani itu buat beli oleh-oleh.

jangan menghina fisik ya, emang saya kayak gini bentuknya

apalagi ini, jangan di hina, kasian

alhamdulillah ketemu orang


lanjut ke #lombok2

pamer dikit ah di youtube